Breaking News

Latest updates and breaking stories • September 17, 2025 • Stay informed with reliable news coverage

Wednesday, 17 September 2025
4 min read

Mediacepat.com

Berita Tercepat, Informasi Aktual

Kesehatan
4 min read

Balita di Bengkulu Muntah 8 Cacing dari Mulut, Ini Peringatan Keras untuk Semua Orang Tua!

Balita 1,8 tahun di Bengkulu muntahkan 8 cacing gelang dari mulut & hidung. Kondisi kritis akibat infeksi parasit parah. Peringatan keras untuk orang tua tentang bahaya cacingan dan pentingnya sanitasi!

B

Basuki Baskoro

September 17, 2025 at 5:24 AM
Share:
Balita di Bengkulu Muntah 8 Cacing dari Mulut, Ini Peringatan Keras untuk Semua Orang Tua!

Balita di Bengkulu Muntah 8 Cacing dari Mulut, Ini Peringatan Keras untuk Semua Orang Tua!


mediacepat.com - Bayangkan rasa ngeri yang dirasakan seorang ibu saat melihat anaknya yang tengah terbaring lemah tiba-tutiba memuntahkan cacing hidup dari mulut dan hidungnya. Inilah kejadian nyata yang dialami seorang balita di Bengkulu, sebuah cerita yang harus menjadi alarm untuk kita semua.


Awal Tragedi: Demam Tinggi dan Sesak Napas yang Meresahkan


Khaira Nur Sabrina, balita berusia 1 tahun 8 bulan dari Kabupaten Seluma, Bengkulu, awalnya dibawa orang tuanya ke RSUD Tais. Ia menderita demam tinggi yang tak kunjung turun, disertai batuk dan sesak napas yang membuatnya sulit bernapas. Kondisi tubuhnya sangat lemah, dengan berat badan hanya sekitar 8 kilogram—angka yang jauh di bawah berat normal untuk usianya.


Keadaan Khaira begitu mengkhawatirkan hingga para dokter langsung memutuskan untuk merawatnya di ruang Intensive Care Unit (ICU). Diagnosis awal mencurigai ia terkena bronkopneumonia, sebuah infeksi paru-paru yang berbahaya bagi anak-anak. Tapi, siapa sangka bahwa penyebab sesungguhnya jauh lebih mengerikan?


Kejutan Mengerikan: 8 Cacing Gelang Keluar dari Mulut dan Hidung


Dalam proses perawatan, tim medis memberikan obat cacing sebagai bagian dari pemeriksaan standar. Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah adegan yang mungkin hanya kita lihat di film horor. Khaira mulai memuntahkan tidak hanya satu, tetapi delapan ekor cacing gelang (Ascaris lumbricoides) secara hidup-hidup dari mulut dan hidungnya.


Rontgen yang dilakukan kemudian mengungkapkan kenyataan yang lebih menakutkan: terdapat gumpalan cacing di dalam tubuhnya. Gumpalan ini begitu padat sehingga cacing-cacing tersebut tidak dapat dikeluarkan melalui jalur pembuangan normal seperti anus, sehingga mereka mencari jalan lain yang lebih mengerikan—naik ke atas dan keluar melalui saluran pernapasan.


Rujukan Mendesak dan Perjuangan Hidup di Rumah Sakit


Kondisi Khaira yang sangat kritis memaksa pihak RSUD Tais untuk merujuknya ke RSUD M. Yunus di Bengkulu untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Perjalanan ini adalah perjuangan antara hidup dan mati bagi balita mungil yang tubuhnya sudah sangat kelelahan melawan parasit-parasit yang menggerogoti dari dalam.


Di rumah sakit yang baru, tim dokter berfokus pada upaya untuk membersihkan tubuh Khaira dari infestasi cacing masif ini dan menangani kerusakan yang mungkin telah terjadi pada organ-organ dalamnya, khususnya paru-paru dan usus.


Mengapa Bisa Terjadi? Sanitasi yang Jadi Biang Keladi


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Seluma, Mazda, menyatakan bahwa ini adalah kasus pertama yang terjadi di Seluma dengan tingkat keparahan seperti ini. Yang paling mencengangkan, orang tua Khaira disebutkan cukup aktif membawanya ke posyandu untuk imunisasi dan mendapatkan obat cacing.


Lalu, di mana masalahnya? Jawabannya ternyata terletak pada kondisi lingkungan dan sanitasi tempat tinggal keluarga tersebut. Tanah yang terkontaminasi telur cacing, kebiasaan tidak mencuci tangan dengan bersih, serta sumber air yang tidak higienis diduga menjadi faktor utama yang menyebabkan telur cacing masuk ke tubuh Khaira, berkembang biak, dan akhirnya mengambil alih nutrisi yang seharusnya untuk pertumbuhannya.


Investigasi Dinkes: Peringatan untuk Seluruh Keluarga Indonesia


Menyikapi kasus ini, Dinas Kesehatan bersama puskesmas setempat segera turun tangan melakukan investigasi mendalam terhadap kondisi lingkungan rumah dan sanitasi keluarga Khaira. Tujuannya bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk melakukan intervensi dan edukasi yang menyeluruh, tidak hanya untuk keluarga ini tetapi juga untuk seluruh masyarakat di wilayah tersebut.


Kasus Khaira adalah bukti nyata bahwa imunisasi dan kunjungan ke posyandu saja tidak cukup. Perang melawan penyakit seperti ini dimulai dari rumah—dari kebersihan lantai, dari air yang digunakan untuk minum dan masak, dan dari kesadaran setiap anggota keluarga untuk hidup bersih.


Pelajaran Pahit: Jangan Remehkan Pemberian Obat Cacing Rutin


Cacingan sering dianggap sebagai penyakit “sepele” dan biasa terjadi pada anak. Namun, kasus Khaira menunjukkan betapa infeksi parasit ini dapat dengan cepat berubah menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Cacing gelang yang awalnya hanya tinggal di usus dapat bermigrasi ke berbagai organ tubuh, termasuk paru-paru, hati, dan bahkan otak, jika tidak ditangani dengan serius.


Pemberian obat cacing rutin setiap 6 bulan sekali untuk anak-anak, seperti yang dianjurkan Kementerian Kesehatan, bukanlah sebuah saran, melainkan sebuah keharusan. Terlebih lagi bagi anak-anak yang tinggal di daerah dengan sanitasi yang belum optimal.


Penutup: Lindungi Anak Anda, Mulai dari Sekarang!


Cerita Khaira adalah tamparan keras bagi kita semua. Jangan tunggu sampai hal mengerikan terjadi pada buah hati Anda. Kapan terakhir kali Anda memberikan obat cacing kepada anak Anda? Sudahkah kebersihan rumah dan lingkungan Anda benar-benar terjamin? Bagikan artikel ini kepada orang tua dan pengasuh anak di sekitar Anda untuk meningkatkan kewaspadaan. Mari bersama jaga anak-anak Indonesia agar tumbuh sehat dan terbebas dari ancaman cacingan!

Tags:
Kesehatan News 696 words
Share this article:

Comments (0)

No comments yet

Be the first to share your thoughts about this article!

Leave a Comment

Captcha

Related Articles

3 articles