Dua Hari Jadi Menteri, Purbaya Langsung Jadi Viral Usai Sindiran DPR

Dua hari menjabat, Menkeu Purbaya langsung jadi sorotan setelah disindir anggota DPR, bikin heboh netizen dan viral di media sosial.
M

Melissa

Published on September 10, 2025 at 8:19 AM

Jakarta – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menghadiri rapat kerja pertamanya dengan Komisi XI DPR hari ini. Banyak anggota legislatif memberikan komentar, termasuk Harris Turino dari PDIP.

Dalam rapat itu, Harris memberikan sindiran ringan namun mengena kepada Purbaya. Ia menyoroti betapa cepatnya Menkeu baru ini menjadi pusat perhatian publik. “Selamat Pak, baru dua hari menjabat menteri, langsung menjadi orang yang paling viral di seluruh Indonesia,” ujar Harris di ruang rapat Komisi XI, Rabu (10/9/2025).


Purbaya sempat menjadi sorotan setelah menanggapi tuntutan 17+8, yang ia sebut sebagai aspirasi dari sebagian kecil masyarakat. Selain itu, Harris juga menyinggung proyeksi ekonomi 2026 yang optimistis dari Purbaya sebesar 5,4%. Menurut Harris, tantangan seperti PHK, penurunan daya beli masyarakat, dan angka kemiskinan masih menjadi perhatian serius. Ia juga menekankan pentingnya menjaga defisit APBN 2,48%, kewaspadaan terhadap utang yang jatuh tempo, serta kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.


MENKEU PURBAYA MINTA MAAF ATAS PERNYATAAN VIRAL

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait pernyataannya yang sempat viral saat menanggapi tuntutan 17+8. Pernyataan sebelumnya yang menyebut tuntutan itu berasal dari “sebagian kecil masyarakat Indonesia” menuai berbagai reaksi.


Purbaya menegaskan bahwa maksud ucapannya bukan meremehkan kesulitan rakyat. Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi berdampak pada banyak warga, dan jika masyarakat terdampak secara luas, hal ini bisa memicu aksi demonstrasi.


“Bukan sebagian kecil. Maksudnya begini, ketika ekonomi agak tertekan, kebanyakan masyarakat yang merasa susah, bukan sebagian kecil ya. Mungkin sebagian besar kalau sudah sampai turun ke jalan. Jadi kuncinya di situ,” jelas Purbaya usai bertemu Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (9/9/2025).


Purbaya menegaskan komitmennya untuk memulihkan ekonomi nasional agar menciptakan banyak lapangan kerja di Indonesia. Ia kembali meminta maaf atas pernyataannya yang keliru.

“Jadi itu maksudnya saya kemarin. Kalau kemarin salah ngomong, saya minta maaf,” ujar Menkeu Purbaya.


KAGET PERNYATAANNYA VIRAL, PURBAYA JANJI PERBAIKI KOMUNIKASI

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku terkejut saat pernyataannya terkait tuntutan 17+8 menjadi viral di media sosial. Ia menganggap pengalaman ini sebagai pembelajaran penting dan berjanji akan memperbaiki cara komunikasinya ke publik.


“Kaget juga. Tapi ini bagian dari proses edukasi ke publik. Kalau saya salah, saya perbaiki. Yang jelas maksud saya bukan bilang ‘biar aja rakyat’ atau ‘itu yang susah saja’. Nggak,” ujar Purbaya.


Selain itu, Menkeu menekankan komitmennya untuk melakukan berbagai perbaikan yang dapat mempermudah masyarakat mencari pekerjaan, sehingga kesejahteraan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.


“Ada sesuatu yang bisa diperbaiki supaya mereka nanti lebih mudah mencari kerja. Bukan satu kelompok saja, tapi semuanya, masyarakat bisa sejahtera bersama. Itu tujuan utamanya,” tambah Purbaya.


PERNYATAAN LENGKAP PURBAYA SOAL TUNTUTAN 17+8

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menanggapi tuntutan 17+8 yang mencuat setelah aksi demonstrasi besar pekan lalu. Ia memberikan tanggapan dengan nada santai saat diwawancarai awak media.


Setelah resmi dilantik menggantikan Sri Mulyani, Purbaya datang ke Kantor Kementerian Keuangan. Saat ditanya soal tuntutan tersebut, ia menjelaskan:

“Saya belum mempelajari secara detail, tapi secara umum begini. Itu suara sebagian kecil rakyat kita. Ada yang merasa terganggu karena kondisi hidupnya masih kurang baik,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (8/9/2025).


Purbaya menambahkan bahwa tuntutan ini akan mereda jika pemerintah berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dengan nada tenang, ia menekankan bahwa masyarakat nantinya akan lebih fokus pada pekerjaan dan kehidupan sehari-hari daripada aksi demonstrasi.

“Kalau pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6–7 persen, tuntutan itu akan hilang otomatis. Mereka akan lebih sibuk mencari kerja dan menikmati hidup daripada berdemo,” jelasnya.