Chery Prediksi Merek Mobil Akan Berguguran di Indonesia

Chery memprediksi industri otomotif Indonesia akan mengalami “seleksi alami”. Hanya merek yang berani berinovasi dan beradaptasi dengan era mobil listrik yang akan bertahan.
S

Shafira

Published on November 4, 2025 at 1:53 PM

Merek Mobil Akan Berguguran? Chery Sebut Tak Semua Bisa Bertahan di Indonesia

Pasar otomotif Indonesia kini sedang memasuki masa yang menarik — bahkan bisa dibilang “pertarungan hidup dan mati” bagi sejumlah merek mobil. Di tengah derasnya arus kendaraan listrik (EV) dan serbuan merek baru asal China, beberapa pemain lama mulai kehilangan cengkeramannya.


Menariknya, Chery — salah satu merek pendatang yang kini tengah naik daun — memperkirakan tidak semua merek akan mampu bertahan dalam persaingan yang makin brutal ini. Siapa yang akan gugur dan siapa yang bertahan?


Tren Penjualan Mobil: Merek China Mulai Menyalip Jepang

Beberapa tahun lalu, hampir tak ada yang membayangkan merek asal China bisa menggoyang dominasi merek Jepang di Indonesia. Namun, data terbaru menunjukkan hal sebaliknya.


Pada kuartal pertama 2025, penjualan mobil-mobil asal China di Indonesia melonjak hingga 153 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, merek-merek Jepang justru mengalami penurunan penjualan yang cukup tajam.


Sebagai contoh, Daihatsu turun hampir 24 persen, sementara beberapa merek lain seperti Honda dan Nissan juga terlihat melambat.


Di sisi lain, merek seperti Chery dan Wuling justru melesat. Bahkan pada Juni 2025, Chery berhasil menempati posisi ke-6 dalam daftar merek mobil terlaris di Indonesia, dengan angka wholesales mencapai 2.271 unit. Sebuah lompatan besar bagi merek yang baru kembali aktif di Indonesia beberapa tahun terakhir.


Fakta ini menunjukkan satu hal: pasar otomotif Indonesia sedang berubah cepat. Dan perubahan itu tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.


Chery Buka-Bukaan: Tidak Semua Merek Akan Bertahan

Dalam beberapa kesempatan, pihak Chery menyebut bahwa mereka melihat industri otomotif Indonesia tengah menuju era seleksi alami.

Hanya merek yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar — terutama soal elektrifikasi dan inovasi teknologi — yang akan bertahan.

Artinya, bagi merek yang masih bergantung pada strategi lama, kemungkinan besar akan “berguguran” satu per satu.


Chery sendiri terlihat percaya diri menghadapi gelombang perubahan ini. Mereka bahkan menargetkan bisa menjadi merek mobil China nomor satu di Indonesia pada 2025 atau 2026.


Strateginya jelas: memperluas jaringan dealer, memperbanyak varian mobil listrik dan hybrid, serta fokus pada kualitas dan desain yang relevan dengan selera konsumen muda.


Menurut pernyataan perwakilan Chery Indonesia, langkah mereka bukan sekadar menjual mobil, tapi membangun ekosistem baru yang siap bersaing di masa depan.

“Pasar otomotif tidak lagi hanya tentang siapa yang punya nama besar, tapi siapa yang bisa bergerak lebih cepat,” ujarnya dalam wawancara dengan media otomotif nasional.


Dominasi Jepang Mulai Goyah: Apa Penyebabnya?

Pertanyaan besarnya: mengapa merek Jepang yang dulu begitu kuat kini mulai tergeser?

Jawabannya sederhana tapi kompleks. Pertama, perubahan perilaku konsumen. Generasi muda saat ini tidak hanya mencari mobil yang efisien dan tangguh, tetapi juga yang pintar, futuristik, dan ramah lingkungan.

Kedua, kebijakan pemerintah Indonesia yang semakin mendorong transisi ke kendaraan listrik, lewat insentif pajak dan dukungan infrastruktur.


Merek-merek Jepang sebenarnya punya teknologi EV, tapi langkah mereka terbilang lambat di pasar Indonesia. Banyak di antara mereka masih fokus pada kendaraan bensin atau hybrid ringan, sementara merek-merek China langsung terjun penuh ke segmen EV dengan harga yang kompetitif.


Di sisi lain, merek China datang dengan strategi yang lebih agresif: fitur lengkap, desain modern, harga bersaing, dan layanan purna jual yang makin luas.

Chery misalnya, tidak hanya menjual mobil EV tapi juga menghadirkan model seperti Omoda 5 dan Tiggo 8 Pro, yang tampil modern dengan fitur canggih seperti ADAS, sistem kamera 360 derajat, dan konektivitas penuh.


Merek yang Bisa Bertahan: Siapa yang Punya Strategi Tepat?

Di tengah situasi kompetitif ini, beberapa merek terlihat masih mampu bertahan dan bahkan beradaptasi. Toyota misalnya, masih menjadi pemimpin pasar berkat jaringan kuat dan inovasi di segmen hybrid.

Wuling juga menunjukkan performa solid, terutama lewat seri Air EV yang sukses menjadi mobil listrik terlaris di Indonesia 2024–2025.


Namun, merek lain yang belum menunjukkan inovasi signifikan diprediksi akan kesulitan mempertahankan pangsa pasar.

“Kalau tidak segera menyesuaikan diri, bisa saja beberapa merek lama harus hengkang dari Indonesia dalam beberapa tahun ke depan,” ujar seorang analis otomotif kepada media lokal.


Sementara itu, Chery terus memperluas jaringannya dengan menargetkan 35 dealer baru sepanjang 2025.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang mereka untuk memperkuat posisi di segmen SUV dan EV — dua kategori yang sedang tumbuh paling cepat di Indonesia.


Pergeseran Besar: Dari “Nama Besar” ke “Inovasi Besar"

Pasar otomotif global sedang mengalami transformasi besar, dan Indonesia ikut terbawa arusnya.

Dulu, reputasi merek menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan konsumen. Tapi sekarang, inovasi dan value-for-money jadi kunci.


Chery, BYD, Wuling, dan MG — semuanya berasal dari China, dan semuanya datang dengan keunggulan teknologi yang tak bisa dianggap remeh.

Sementara itu, konsumen Indonesia kini lebih kritis. Mereka membandingkan fitur, efisiensi energi, dan layanan purna jual sebelum membeli.


Kondisi ini membuat merek-merek baru punya peluang besar untuk menembus dominasi lama.

Sebaliknya, merek besar yang terlalu nyaman dengan status quo bisa kehilangan pasar secara perlahan — tanpa mereka sadari.


Tantangan Bagi Industri Otomotif Nasional

Bagi Indonesia, situasi ini sebenarnya menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kehadiran banyak merek baru memperkaya pilihan konsumen dan mempercepat transisi menuju kendaraan ramah lingkungan.

Namun di sisi lain, ada risiko bahwa produsen lokal atau merek yang tidak siap bisa tertinggal jauh.


Pemerintah pun berupaya menjaga keseimbangan lewat regulasi dan insentif.

Langkah seperti pengurangan pajak untuk mobil listrik dan hybrid hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya nasional menjadi bagian penting dari strategi transisi ini.


Namun, menurut para analis, adaptasi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan. Diperlukan juga kesiapan industri otomotif lokal dalam memproduksi kendaraan listrik dan mengembangkan komponen secara mandiri.


Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi pasar konsumtif bagi merek asing — bukan pemain utama di masa depan otomotif global.


Kesimpulan: Siapa yang Akan Bertahan?

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah pasar otomotif Indonesia akan berubah, tapi seberapa cepat perubahan itu terjadi.

Chery dan beberapa merek baru jelas punya momentum kuat. Tapi, apakah mereka bisa mempertahankan kepercayaan konsumen dalam jangka panjang?

Dan di sisi lain, apakah merek Jepang akan berdiam diri atau justru bangkit dengan strategi baru?


Satu hal pasti: persaingan ini belum selesai.

Konsumen kini punya lebih banyak pilihan, dan merek yang ingin bertahan harus berani berubah — bukan hanya ikut tren, tapi juga menciptakannya.


Jadi, menurut kamu, siapa yang akan bertahan lima tahun ke depan: nama besar yang sudah lama ada, atau pendatang baru yang datang membawa inovasi segar?